Aku tidak menyesal, hanya saja merasa bersalah pada orang itu. Dia sangat baik padaku, selalu menjadi pendengar setia curhatanku. Hanya saja aku tidak suka kalimat-kalimat smsnya. Seolah-olah kami berdua sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Come on!! .. Dia juga sangat berharap aku menjadi jodohnya, sigh who’s want?? Dia tampak mulai memaksa, dia bersikap manja. Aku benci seorang cowok yang bersikap manja seperti anak kecil, tidakkah pernah mereka mencoba untuk lebih dewasa. Kurasa orang itu sudah salah pilih, kalau memilihku.
Maafkan aku, ini semua kulakukan juga karena ibuku juga berkata akan jauh lebih baik bila aku memilih seseorang yang berasal satu daerah denganku, ada sangat sangat banyak orang di luar sana yang jauh lebih baik dan mungkin berjodoh denganku. Aku sendiri sebenar masih belum siap untuk pacaran. Kata-kata mesra sungguh membuatku muak, kata-kata memelas mereka membuatku bosan dan juga lelah, sikap manja mereka membuat ingin muntah. Aku tidak tahan dengan semuanya itu. Aku tidak suka terlalu diatur oleh orang itu. Membangunkan tidurku yang nyenyak di pagi hari, menidurkanku dengan rayuannya yang sudah sering kudengar .. bullshit .. I hate it very very much ..
Ya Allah, maafkan aku karena telah menyakiti orang itu juga melepaskan anak laki-laki itu. Mungkin aku juga tidak mau lagi berteman dengan mereka, setelah banyak kenangan.
Aku hanya menginginkan seseorang yang nyata dan sesuai dengan keinginan hatiku. Ataukan mungkin aku yang tidak bisa dengan mudah menerima kekurangan mereka. Kenapa semuanya jadi sesulit ini, sungguh sangat sulit. Lebih sulit dari soal matematika saat UAN. Sigh … Ku berharap mereka dapat menemukan seseorang yang jauh lebih baik dibandingkan aku. Mungkin aku harus belajar lebih banyak, kujadikan semua ini sebagai pengalamanku menemukan seseorang yang benar-benar kucintai. Amien … Ya Allah, ku mohon padamu untuk selalu membuatku tegar dan bersyukur atas apa yang telah kau berikan padaku. Thanks for everything.
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »
sigh .. aku bingung dengan perasaan ini. Menyianyiakan orang yang tulus menyukaiku, mengharapkan seseorang yang tidak mungkin kumiliki, membuat orang lain berharap lebih padaku dan terus menungguku. Apa sebenarnya yang salah dari semua ini, aku bisa saja bersama dengan salah satu dari mereka. Tapi bagaimana mungkin bisa, sementara bayangan orang itu selalu ada. Kenapa semuanya jadi sangat sulit seperti ini, kenapa aku tidak bisa mengambil keputusan dengan mudah. Terus saja setiap harinya aku mendengar cerita teman-temanku tentang cerita cinta mereka, aku juga ingin punya cerita sendiri tentang cintaku.
Ada banyak orang yang sudah sukses membuatku menangis, tapi aku tidak ingin menyakiti orang lagi dan membuat mereka kecewa seperti dulu. Lalu terjadi karma, orang-orang yang tidak dikenal membalas apa yang telah kulakukan. Aku hanya tidak mau saja karena terlalu pemilih, lalu aku sendiri di akhir cerita. hikz ..
Aku tidak pernah mengerti perasaan mereka yang bisa dengan mudahnya mencintai seseorang, atau menyukai seseorang. Aku bukanlah tipe seorang cewek yang dengan mudah berpindah ke lain hati dengan cepat, mungkin bisa saja aku berpindah dari laki-laki yang satu dengan yang lain. Tapi, tetap saja perasaanku hanya akan terfokus pada satu orang saja, yaitu orang yang sebelumnya kucintai. Laki-laki, dengan mudahnya berkata bahwa mereka mencintaiku dengan sepenuh hati, come on … cinta bukanlah hanya sekedar kata dan segala macam janji yang hanya akan menjadi janji. Aku berharap agar mereka dapat lebih menghargai cinta yang sebenarnya, cinta tidak dapat dipaksakan, juga tak dapat dihindari. Bagiku perasaan cinta itu tidak datang dalam waktu singkat, butuh banyak waktu untuk mengetahui apakah aku benar-benar mencintai seseorang. Bagiku perasaan di awal sebuah hubungan hanyalah sekedar perasaan kagum, juga suka yang hanya suka biasa. Bukanlah cinta yang sesungguhnya. Kurasa inilah yang sekarang dirasakan oleh adik juga kakakku itu. Mereka hanya kagum pada perhatianku yang begitu peduli pada mereka, perasaan mereka bukanlah cinta yang sebenarnya, tapi hanya sebatas kekaguman pada seorang seperti aku. Tidak ada alasan dalam cinta, cinta adalah cinta., itulah yang kuinginkan. Tapi saat aku bertanya kenapa, banyak jawaban yang keluar dari mulut mereka, padahal ku hanya perlu jawaban seperti ini, there’s no reason, I just know that I love you … that’s it .. but it looks so hard to understand .. hikz …
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »
Aku tidak tahu apa yang salah dengan perasaanku saat ini. Aku tidak bisa mengendalikan pikiranku untuk berhenti memikirkannya. Senyumannya juga sapaannya di hari pertama masuk kampus selalu membuatku teringat. Dia yang dengan lembut menolongkan dan meminjamkan sesuatu yang tak mungkin kulupakan. Mungkin aku yang terlalu berharap lebih pada hubungan pertemanan ini. Aku yang selalu salah mengartikan kebaikannya. Aku juga tidak punya keberanian sedikitpun untuk melihat ke arahnya sampai akhirnya orang lain yang lebih dulu memilikinya. Bahkan saat dia mengucapkan terimakasih pun atas apa yang kulakukannya kucoba menunjukkan sikap cuek. Sungguh bukan seperti itu maksudku, aku hanya tidak tahu harus bersikap seperti apa semestinya didepan orang yang kusukai. Dia yang selalu dengan sikap lembutnya duduk di belakang, diam-diam aku coba memperhatikan orang yang berada satu kelas denganku itu. Terkadang kucoba melihat ke arah lain padahal sebenarnya saat itu aku tengah memperhatikannya. Perlahan aku melangkah di hadapannya, berharap dalam hati dia menegurku. Tapi semuanya tak semudah seperti yang dibayangkan. Mulutku tertutup, terkunci rapat, aku begitu terpesona padanya. Ingin aku menegur lebih dulu, tapi kutak pernah tahu apa yang harus kutanyakan padanya, dia juga sepertinya lebih sibuk dengan teman-temannya. Aku tidak ingin dianggap menjadi seseorang yang begitu terlalu memaksakan perasaanku. Allah, tolonglah aku. Aku tidak ingin begitu terlarut pada perasaanku ini, ….
Posted in Dear Diary | Tagged diary | 1 Comment »
Hiks … uwa …. I’m sad, very very sad. Someone help me …
yeah mungkin ini juga karena aku yang terlalu ge er … kupikir semuanya akan baik-baik saja. Ternyata cinta memang sangat menyakitkan, kurasa inilah karma yang harus kuterima untuk kedua kalinya ku harus kecewa. Aku benar-benar tidak sanggup, rasanya sakit sekali. Kau memang benar-benar seorang heartbreaker yang hebat. Cukup dengan waktu sekejap kau membuatku menjadi seperti ini. Kutahu kau hanya menjadikan ku sebagai pelarianmu, tapi kuterlanjur mencintaimu. Mungkin hari itu adalah hari terakhir kita bersama, pertama dan untuk selamanya. Mungkin sekarang nomor ku pun sudah kau hapus bukan karena terjadi sesuatu pada HPmu tapi dengan sengaja kau melakukannya.
Aku tahu aku salah, aku yang mencari cara seperti ini. Aku yang terlalu berlebihan melihat sikap baikmu. Aku baru sadar kau adalah seorang kakak yg kesepian karena kekasihmu berada jauh disana. Seperti inikah sakitnya cinta, bukan maksudku karma. Kenapa harus terjadi padaku, rasanya sangat sakit dan benar-benar. Aku yang terlanjur terlalu berharap banyak padamu, semuanya memang salahku. Aku yang bodoh, aku yang terlalu kekanak-kanakan. Aku tidak sesempurna orang yang berada jauh disana menunggumu, aku juga tidak sebaik dan tak bisa dibandingkan dengannya. Aku juga tidak ada apa-apanya, dia adalah segalanya bagimu. aku hanya berada diantara kalian dan coba merusak hubungan kalian yang sudah berjalan.
Aku benci karena harus memiliki perasaan ini, kalau kau memang bukan untukku kenapa kau harus datang dan mengacaukan pikiranku. Kau buatku berharap kemudian menjatuhkanku. Kau buat semuanya tampak indah lalu kau berikan aku airmata.
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »
Sungguh sangat menakutkan, pertama kalinya aku berjalan berdua dengan seorang laki-laki. Beruntung kami tidak berada lebih dekat. Hanya saja rasanya kepalaku sangat pusing, aku tidak tahan dengan aroma tubuh mereka yang begitu menyengat. Aku kesulitan untuk berpikir dan mencari tahu bahan pembicaraan. Sepanjang jalan ku coba senang dan tersenyum, sampai gigiku mengering. Lalu kami makan, sungguh aku tidak tahan dengan minyak berlebih di makanan itu, tapi kupaksakan untuk memakan semuanya. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa semestinya.
Mungkin hari ini akan menjadi pertama juga terakhir aku jalan bersama dengan mereka. Tak akan kuulangi lagi, karena sungguh tak sanggup. Bagaimana mungkin bisa gadis-gadis lain bertahan dengan keadaan seperti itu. Atau mungkinkah karena aku yang terlalu takut pada kenyataan bahwa aku lebih dibandingkan dengannya. Seperti yang kubilang, untuk memegang tangan saja aku perlu waktu yang cukup lama untuk memikirkannya. Sekarang tergantung padanya saja what the next?? Karena mungkin sebaiknya aku sendiri saja dulu, ada masanya dimana aku akan dewasa dan memahami seperti apa cinta itu sebenarnya. Tapi untuk detik ini kuucapkan terimakasih pada kalian semua yang bersedia menunggu untukku. Selamanya perasaan cintaku pada orang itu pun akan tetap terkubur didalam hatiku bersama dengan kebaikan hatinya di hari pertama juga kekesalanku padanya karena dia terlalu memperlihatkan betapa mesranya dia bersama orang lain itu.
Hari ini ku hampir saja menangis karena orang itu, kupikir dia kembali melupakan janjinya. Aku baru sadar apa yang telah terjadi seharusnya tak terulang kembali. Mungkin ini memang ketakutan terbesar dalam hidupku. Aku tidak bisa tahan lama berada di dekat seorang pria. Mungkin kalau mereka adalah orang-orang yang sudah cukup kukenal aku bisa saja bertahan lebih lama. Tapi bagaimana dengan orang asing yang baru satu minggu yang lalu mulai menjalin pertemanan. Bahkan saat kami bertemu pun belum tentu juga dia hanya terfokus padaku. Ada sangat banyak orang yang jauh lebih dibandingkan aku berada di sekitarnya. Aku merasa menjadi orang yang paling kecil diantara yang paling terkecil. Tidak ada kegugupan, hanya saja sepertinya aku mual dan ingin muntah mungkin ini karena udara malam yang dingin dan sangat menusuk. Beruntung aku mengenakan jaket untuk menghangatkanku. Terlihat jelas orang tua yang tidak setuju dan terus bertanya mengintrograsiku.
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »
Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka. Mungkin inilah nasib seorang pelarian cinta. Mereka akan menghubungiku saat mereka terluka. Lalu melupakanku setelah orang yang mereka mendapatkan ketenangan. Sungguh sadis cara mereka memanfaatkan kesendirianku ini.
Aku sendiri tidak ingin terlalu berharap pada mereka, terlebih juga ada orang yang sudah kusukai. Tapi orang itu sudah dimiliki orang lain, aku terlambat untuk menyatakan betapa aku menyukainya. Ku mulai membuka hati untuk orang lain tapi ternyata tidak semudah yang kubayangkan. Perjuangan yang panjang untuk mendapat sosok pria idaman, juga cinta sejati yang entah kapan akan kutemukan.
Hanya saja aku lelah dengan hubungan seperti ini, aku juga tidak pernah jalan pikiran seorang pria. Mungkin karena fisik yang mereka lihat di pertemuan pertama membuat mereka dengan mudah melupakan semua yang pernah mereka ucapkan. Dengan mudah mereka membuat kita tersanjung dan terbang melayang tinggi. Dengan mudah juga mereka menjatuhkanku ke dasar yang paling dalam sehingga membuatku terluka. Apa lagi yang dapat kulakukan untuk bisa membuat mereka berada lebih lama disampingku. Mungkin benar aku adalah seorang gadis yang membosankan, dimana setiap kali melakukan pembicaraan hanya bisa bertanya How are you today? What are you doing? Where are you now? Have you breakfast, lunch, dinner?? ,etc. Without make a joke. Juga hal-hal yang membosankan lainnya. Aku tidak tahu bagaimana mungkin bisa selama ini bisa bertahan hidup dalam kesendirian, sementara teman-temanku bisa tertawa bahagia, tersenyum manis, bermanja juga menangis karena orang yang mereka cintai.
Sesulit ini kah aku untuk bisa menemukan seseorang yang dengan tulus mencintai orang seperti aku. Sama seperti melupakan orang yang sudah siap untuk kulupakan.
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »
Kepalaku sangat pusing beberapa hari ini karena masalah yang sedang dihadapi kedua orang tuaku. Masalah ini lebih berat dari sekedar masalah cintaku. Aku hanya ingin melihat mereka hidup tenang saja, tapi kenapa begitu sulit.
Siap atau tidak siap aku harus selalu siap bahkan untuk kenyataan terburuk sekalipun saat aku harus melihat mereka kembali bertengkar dan membuatku ingin menangis.
Sepertinya aku ingin pergi saja menjauh dari semua masalah di dunia ini. Tapi semuanya tidak semudah itu, ingin berlari kemanapun masalah itu akan selalu ada.
so, What if? Bagaimana jika aku tidak bisa melewatinya, apa yang akan terjadi pada keluargaku tercinta ini. hanya mereka orang yang paling dan sangat dekat denganku.
Aku ingin sekali bisa menjadi orang bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah padaku. Tidak semua orang bisa mendapatkan yang mereka inginkan dengan mudah, tidak semua seberuntung aku karena semua keluargaku masih lengkap dan masih berada tidak jauh dariku.
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »
Aku tidak tahu bagaimana seharusnya juga bagaimana semestinya. Tidak akan pernah mengerti seperti apa perasaan ini pada orang-orang itu. Mereka yang selalu ada untukku, sekarang kuhindari mereka.
Menerima orang yang tak kusukai, Melupakan orang yang kucintai. Aku tidak tahu akan berakhir seperti setelah itu. Apa aku akan menyesal, atau akan ada penyesalan. Penyesalan karena apa. Tak akan pernah bisa ku memahami air mata yang kemarin ku teteskan untuk orang itu. Tak pernah kupahami juga degupan jantungku yang berdetak kencang saat berada di dekat orang lain itu. Senyumannya yang selalu kuingat, tapi kusadar orang lain itu bukan untukku. Mencintai seseorang memang sangat menyakitkan saat kita tak dapat memilikinya. Melepaskan seseorang yang sudah cukup lama menjadi teman kita sangatlah mudah, hanya saja untuk menemukan seseorang yang sama dan juga mengerti kita seperti saat itu akanlah sangat sulit.
Aku tidak menginginkan apapun lagi, cukup berikan aku cinta sejati yang tulus dari dalam lubuk hati.
Aku memang bodoh, begitu saja membiarkan mereka terluka lalu aku pun juga akan ikut terluka seperti saat ini. Aku sendiri tidak mengerti dengan diriku yang tidak bisa dengan mudah mengatakan cinta pada orang yang kusukai. Yeah, I’m fool T___T
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »
Beberapa hari ini aku benar-benar dilema. Teman-temanku bercerita tentang kekasih tersayang mereka. And what about me? Lied as usual. *Sigh …
Apakah sebenarnya aku seorang pemilih, ada banyak orang yang coba mendekatiku. Kenapa begitu sulit rasanya bagiku membuka hati ini untuk salah satu diantara mereka. Seperti ada sesuatu yang mengunci rapat hatiku untuk orang lain. Aku hanya ingin seseorang yang terbaik untuk hidupku. Aku juga tidak mau menjalin suatu hubungan hanya untuk bersenang-senang atau hanya sekedar status semata. Sungguh aku tidak tahu apa sebenarnya yang kuinginkan, orang seperti apa yang sebenarnya aku harapkan dengan keadaanku yang seperti ini. Seharusnya aku sadar sejak awal siapa aku, siapa juga mereka. Seharusnya aku bisa lebih mudah terbuka dan menerima orang lain apa adanya mereka. Karena yang terpenting mereka bisa menyukaiku. Hanya saja tidak semudah itu untuk. Mungkinkah karena bayangan cinta masa lalu itu, orang yang kuharapkan pun belum tentu juga menerima cintaku. Waktu yang kuminta untuk membuktikannya pun semakin berlalu cepat. Apa harus aku menunggu sampai aku sendiri selamanya hanya demi ketidakpastian. Kenapa tidak kuterima saja orang-orang itu. Sangat sulit, aku takut jatuh cinta pada mereka, karena aku belum siap untuk kehilangan. Terlebih lagi orang seperti aku dengan tipe yang begitu tinggi seperti aku sendiri bagaimana. Aku tahu akulah yang bersalah dalam hal ini, aku yang melukai perasaan orang-orang itu. Sungguh aku tidak mau membuat mereka kecewa, *sigh …
Confusing … kenapa bisa sesulit ini mendapatkan seseorang yang kita inginkan. Seseorang yang terbaik untuk hidup. Seseorang yang akan diterima oleh keluargaku.
Posted in Dear Diary | Tagged diary | Leave a Comment »





















