Tags

, , , , , ,


Genre : One-shot, Romantic Comedy

Rating : PG-15

Word Counts : 4,615

Note : Hi my fellow pyro!!! whhhee. Apa aku sudah membuat kalian menunggu terlalu lama?? hhhee. Maafkan aku!! Yeah, as you all know. Tugas kampus masih menyita waktu luangku, jadi aku belum bisa menyelesai ff sebelumnya. Jadi aku buat saja dulu beberapa one-shot atau drabble untuk kalian semua. Whhhee. Harap Maklum ya ^^

Cerita kali ini, hanyalah cerita ringan yang semoga saja kalian bisa mengerti dengan mudah karena memang ada beberapa cerita flashback dimana our YoonHae teringat pada masa-masa mereka pacaran. Kurasa bagi para readers yang sudah membaca ff sebelumnya sudah mengerti maksud dari ff berikut ini. hhhee

Happy Reading All!!!

The Sweetest One

Yoona x Donghae

Suara menderu-deru petir yang berkilatan masih saling beradu dengan gemuruh angin di tengah hujan deras di luar sana. Tempiasannya menerpa kaca jendela yang sudah tertutup. Jalanan yang beraspal pun semakin licin dan tampak air bergenang di sisi-sisi jalan yang berlubang. Rerumputan juga pepohonan pun tak kuasa, mereka pasrah saja membiarkan tiap tetesan air hujan terus mengguyur bumi.

Terdengar lagi suara gelak tawa seorang gadis yang sedang bercanda dengan kekasihnya. Mereka saling melempar bantal lalu memukul geram menggunakan beberapa boneka yang terpajang. Terus saja mereka saling melempar guyonan untuk menambahkan kehangatan di udara dingin yang begitu membekukan.

“Yoong, hentikan!!” Donghae sambil memegangi perih perutnya yang sakit. Ia terkapar tak berdaya di atas sopa panjang setelah berhasil dikalahkan Yoona yang begitu perkasa.

“Aish . . . Hwae Oppa. Begitu saja kau kalah, dasar pengecut!” Ejek Yoona seraya berkacak pinggang dengan ekspresi wajah merendahkan.

Donghae pun kembali kesal dibuatnya, Ia bergegas bangun dan segera ditariknya tangan gadis itu dengan kasar lalu dicengkramnya kedua pundak Yoona.

“Ya … Oppa!!” Yoona coba berontak, tapi kekuatannya tak sebanding dengan laki-laki itu.

Donghae pun segera menghempaskan tubuh Yoona ke atas sopa. “Door!!! Kau kalah.” Serunya penuh kemenangan seraya mengarahkan jempol dan telunjuk yang tampak seperti pistol ke kening gadis itu.

“Aish . . . kau curang!!!” Yoona tak terima.

“Bagaimana pun kau harus membelikan aku Stawberry Cheese Cake sekarang juga!!!” Donghae dengan nada perintah yang terdengar sedikit memaksa.

“Tapi di luar hujannya sangat deras.” Yoona menolak mentah-mentah lalu bangkit dan duduk bersandar dengan raut wajah cemberut.

“Benar juga. Nanti kau sakit lagi seperti waktu itu.” Donghae mengiyakan lalu mengikuti jejak Yoona dengan duduk disamping gadis itu sambil menghadap ke jendela yang kacanya blur, kabur karena tertutup embun air hujan.

“Lalu bagaimana sekarang?” Tanya Yoona sambil menolehkan kepala ke arah Donghae yang masih meluruskan pandangannya.

“Sekarang . . .” Donghae tiba-tiba saja menggelitiki pinggang Yoona.

“Oppa!!!” Yoona meronta-ronta meminta agar laki-laki itu berhenti bercanda. “Hentikan!!!” Pintanya segera.

“Maafkan aku! Tapi kau harus tetap membelinya.” Donghae masih dengan raut wajahnya yang tegas.

“Hwae Oppa, bagaimana mungkin kau bisa sangat menyebalkan seperti ini.” Yoona mendengus kesal, wajahnya pun kembali cemberut. Tiba-tiba matanya pun segera diperbesar, raut wajahnya kembali berubah pilu minta dikasihani, persis seperti seekor kucing yang memohon kasih. “Nanti, tunggu sampai hujan reda saja. Bagaimana?” Nada bicaranya berubah lembut.

“Aish . . . Baiklah-baiklah.” Donghae pun akhirnya luluh. “Tapi kalau hujan reda, kau harus membelikan dua potong ukuran jumbo kue Strawberry Cheese Cake-nya. Kau paham?” Ia menambahkan permintaannya..

“Ne!!!” Yoona lekas tersentak.

“Sekarang berbaringlah!!!” Donghae tanpa berbasi-basi segera menarik bahu Yoona, lalu membaringkan gadis itu di pangkuannya.

“Apa-apaan ini!!” Yoona kembali coba berontak namun tak bisa.

“Tidurlah!!!” Suara Donghae yang sengau terdengar serak. “Tunggu sampai langit kembali cerah dengan menampakkan sinarnya yang terang. Tunggu sampai tak ada lagi awan mendung yang abu-abu, awan yang membuat hati semakin kelabu.” Tambahnya lagi dengan beberapa patah kata yang langsung membungkam mulut Yoona agar tak terus bicara.

Yoona pun membisu sambil berbaring di pangkuan kekasihnya, dibiarkannya laki-laki itu mengusap kepala juga membelai lembut rambutnya. Perlahan matanya pun terpejam, Ia mulai terlena. Kedamaian juga ketentraman menyelimutinya dalam kehangatan, rasanya tak ingin beranjak dari waktu yang seakan berhenti itu.

“Aku pasti akan sangat merindukan hari ini, hari dimana hanya ada kau dan aku berdua di sebuah tempat yang tak seorang pun bisa menemukannya. Sebuah tempat dimana kita bisa menyirami cinta ini dengan kasih sayang lalu membuat tumbuh subur dan bersemi. Kita memang sudah seharusnya bersama seperti ini, Aku dan kau memang sudah ditakdirkan bersatu dalam ikatan ini.” Desis Donghae pada Yoona yang sudah tertidur pulas. Ia pun menunduk lalu melesatkan kecupan di kening gadis itu barang sejenak, ditariknya napas sedalam mungkin. Lalu beralih dengan mencium kedua mata yang tertutup oleh kelopak itu. “Sekalipun akhirnya tidak seperti yang kita rencanakan. Tapi satu hal yang harus kau tahu, kau akan selalu menjadi kisah termanis dalam buku cerita kehidupanku.”

Bisikan-bisikan mesra itu selalu terniang di dalam pikirannya. Terdengar suara i-phone yang bergetar dan terus menjerit di atas meja membuyarkan imajinasi, Yoona yang terlelap pun terbangun dibuatnya. Ia segera membelalakkan mata yang masih begitu berat untuk dibuka. Beberapa kali Ia membiarkan mulutnya menguap, lalu duduk sebentar untuk membaca pesan singkat yang baru masuk. “Yoona. Jangan lupa hari ini ada pemotretan. Cepatlah bangun dan mandi!! Jangan terlambat!!!” Ia pun menghela napasnya sambil memegangi kepalanya yang pusing.

“Pemotretan lagi!!!” Desahnya. Napas pun kembali dihela, “Apa tidak bisa sehari saja aku bersantai.” Leher pun dilenggokkan beberapa kali untuk melonggarkan otot-ototnya yang kaku. Ia terpekik lalu bergegas bangun melihat hujan yang sudah reda. “Ah benar juga. Hwae Oppa!! Aku harus segera membelikan kue untuknya.”

Segera dipasangnya blazer merah dari bahan rajutan benar wol, namun langkahnya kembali terhenti saat tersadar bahwa laki-laki itu hanyalah halusinasi yang tadi menyelinap di dalam tidurnya yang nyenyak untuk menemani mimpi indah yang tak menjelma menjadi nyata. Tubuh kembali dihempaskannya ke atas sopa, raut wajah yang tadi bersemangat sekejap berubah lesu tak bergairah. Napas berat kembali didesah, “Sudah satu minggu ini aku dan Hwae Oppa berpisah, tapi kerelaan masih tak merestui keputusan yang kami ambil. Aku masih ingin dia yang membelaiku lalu menyanyikan lagu nina bobo penghantar tidurku.” Batinnya dengan penuh harapan. Hatinya pun kembali terasa perih, mengingat orang itu sudah bukan bagian dari corak yang memberi warna di kehidupannya lagi.

♥ ♥ ♥

Dengan mengenakan casual t-shirt berwarna abu-abu ditutupi kemeja kotak-kotak berwarna hitam yang kancingnya terbuka dan celana pendek bawah lutut. Laki-laki itu pun berbaring dengan santai menggunakan lengannya sebagai bantal, di atas kursi malas yang biasa digunakan untuk berjemur di pinggiran kolam berenang. Matanya yang ditutupi sunglasses pun tampak terlindung dari sinar terik sang mentari di sore hari. Sungguh sebuah musim panas yang tenang di tengah sibuknya kegiatan namun penuh dengan kehampaan.

“Bagiku matahari sesungguhnya itu adalah Dia.” Donghae teringat pada kalimat puitis yang diselipkannya di dalam surat, surat yang ditulisnya sebagai hadiah ulang tahun untuk sang kekasih.  “Apa rusa bisa berenang? Karena sebagai ikan aku akan berenang sedalam mungkin di lautan, jadi kumpulan temanmu itu tak akan bisa menangkapku.” Kalimat lain yang terucap dari bibir manisnya pun ikut bermunculan di benak. “Kalau begitu sepulangnya ke Korea nanti kau harus mengajariku berenang, dengan begitu kemana pun kau pergi aku pasti akan menangkapmu.” Nada bicara Yoona yang manja pun masih membekas di memori kepalanya, Ia tak bisa lupa pada permintaan sang pujaan hati yang meminta untuk diajari berenang.

Kilas balik di masa lampau pun singgah untuk kembali mengusiknya. Disana Ia hanya dengan mengenakan celana renang yang ketat masuk ke dalam kolam, langsung memberikan aba-aba pada sang gadis yang sudah bersiap dengan gagah berani coba menaklukkan air di kolam.

“Kau sudah siap?” Donghae coba memastikan keadaan sang kekasih yang tampak masih gemetar.

“Tunggu dulu, Oppa!!!” Yoona sedikit ragu, tangannya terus berpegang erat pada tangan Donghae. Ia pun memajukan kakinya beberapa langkah untuk menuju ke tengah.

“Ya, Im Yoona!!! Dalamnya kolam ini hanya setinggi bahumu, tapi kau masih takut?” Donghae dengan nada mengejek.

“Tentu saja tidak!!!” Bantah Yoona segera dengan suara tinggi. “Hanya saja, aku masih belum begitu terbiasa.” Jelasnya coba bergeming.

“Aish . . . katakan saja kalau kau takut. Aku bisa memakluminya.” Sahut Donghae lagi masih dengan nada bicara yang sama diiringi tawa merendahkan.

“Aku tidak takut!!!” Tegas Yoona namun jari-jemarinya terus berpegang teguh pada genggaman tangan Donghae.

“Kalau begitu, ayo cepat berenang!!!” Perintah Donghae.

“Oppa tidak akan melepaskanku, bukan?” Giliran Yoona yang memastikan bahwa kekasihnya itu akan selalu menjaganya.

“Pasti. Aku akan selalu mengawasimu.” Donghae tanpa berbasa-basi.

“Baiklah.” Namun Yoona masih tampak ragu. “Satu, dua . . .” Ia coba mengapungkan tubuhnya lalu menggerakkan kakinya.

Tanpa pikir panjang, Donghae segera menarik tangan gadis itu. Membantu Yoona untuk bergerak maju, “Wah kau cepat sekali belajarnya. Sebentar lagi kau pasti bisa berenang.” Ia pun terus memuji sang kekasih agar semakin bersemangat.

“Aku bisa Oppa!!!” Teriaknya kegirangan saat perlahan tubuhnya bergerak ke depan.

Tanpa ragu Donghae pun melepaskan pegangannya dan menjauh, membiarkan gadis itu dengan kekuatannya sendiri coba mengalahkan ketakutannya pada air. “Bagus!! Bagus!! Yoong, semangat!!!” Ia seraya mengarahkan kepalan tangan dengan senyum melebar pada gadis itu.

Tiba-tiba Yoona terhenti tepat di pusat kolam yang tampak lebih dalam, Ia tampak lemas dan tak bisa bernapas. Sesak seperti beberapa buah batako tengah menghimpit rongga dadanya dan menutup udara masuk ke dalam tubuhnya. Kakinya pun terasa keram dan tak lagi bisa di gerakkan, “Hwae Oppa!! Hwae Oppa!!” Gadis itu hilang keseimbangan.

“Yoong!!” Donghae dengan sigap lekas berenang secepat mungkin untuk menyelamatkan pemilik separuh nyawanya. Halusinasi itu pun mengontrol hati dan pikirannya untuk terus berada di dunia fantasi. Ia lekas bangkit dari rebahan, lalu bergegas melepaskan kemeja dan kacamatanya. Tanpa segan Ia segera menceburkan diri ke dalam kolam yang airnya tampak tenang. Jiwanya masih tak sadar, khayalannya masih tentang Yoona yang hampir tenggelam. Ia juga tak menggubris Siwon yang tampak bingung melihat temannya itu berenang mengenakan t-shirt lengkap dengan celana pendeknya.

“Donghae!! Ada apa?” Siwon beberapa kali coba mempertanyakan tingkah aneh laki-laki itu.

Donghae yang sudah berada di dalam kolam pun lekas tersadar bahwa semua itu hanyalah imajinasinya. Tak ada sosok Yoona yang ditemukannya, yang ada hanyalah kekosongan dari air yang mulai keruh karena ulahnya. Ia pun mendengus tak percaya, lalu tertawa mengejek dirinya sendiri. “Ada apa denganku?” Batinnya, kemudian berbalik arah untuk menepi. Ia pun segera naik dan duduk sejenak dengan baju yang basah. Napasnya yang terengah-engah, coba diatur agar tak tersengal-sengal lagi.

Siwon pun tampak khawatir, Ia lekas naik menggunakan tangga di sisi kolam lalu menghampiri laki-laki itu. “Donghae!!! Kau baik-baik saja, bukan?” Ia begitu cemas.

Donghae hanya menyahut dengan senyuman yang terlihat sedikit perih. “Aku masih tak tahu bagaimana melupakannya? Bayangannya terus saja mengikuti kemana pun aku pergi.” Ungkapnya.

Siwon  hanya mengernyitkan kening lalu mengangkat kedua alisnya. Perlahan Ia pun berhasil menangkap makna dari mimik wajah Donghae yang putus asa. Ditepuknya segera pundak laki-laki itu beberapa kali, karena hanya itu yang bisa dilakukannya. Ia tidak tahu nasehat seperti apa yang harus diberikan. Hanya pasangan kekasih itu sendiri yang bisa menyelesaikannya masalah yang tengah menimpa keduanya.

♥ ♥ ♥

“Kudengar Donghae hyung akan kembali ke Korea hari ini. Benarkah itu?” Kyuhyun membuka obrolan ringannya seraya melewati lorong koridor bersama dengan beberapa member lain. Ia pun kembali meminum jus menggunakan sedotan dari gelas plastic di genggaman tangannya.

Ryeowook segera mengangguk untuk mengiyakan, “Oh . . . Mungkin nanti siang Dia baru tiba di bandara.” Sambungnya sambil terus melangkahkan kaki maju.

“Bukankah Dia sedang sakit? Kenapa harus memaksakan diri untuk pulang?” Kyuhyun tampak cemas.

“Akhir-akhir ini kondisi tubuhnya memang sedikit menurun, tapi sekarang dia sudah baikan. Jadi tak perlu khawatir!” Heechul sambil menepuk pundak member termuda di group-nya itu.

“Wah, berarti kita harus menunggu sekitar 2 sampai 3 jam lagi untuk rekaman.” Sungmin menggerutu.

“Kurasa kita bisa memanfaatkan waktu itu untuk berlatih vocal dan menghapal lyric lagunya.” Ryeowook langsung menyambar dengan memberikan beberapa ide cemerlangnya.

“Ah benar juga. Kebetulan Yesung Hyung juga belum datang.” Sungmin sambil melirik ke arah jarum jam di tangannya, Ia pun setuju untuk bersabar menunggu kedatangan member lain yang belum juga menampakkan batang hidung mereka.

“Ayo!!!” Leeteuk yang begitu bersemangat lekas mempersilahkan para member-nya itu untuk masuk ke dapur rekaman.

Mereka pun lekas membungkuk untuk memberikan salam pada orang-orang yang sudah lebih dulu berada disana.

Tampak dari balik dinding persimpangan koridor, Yoona yang sempat terhenti dan bersembunyi untuk menguping pembicaraan para seniornya itu. Raut wajahnya pun berubah maras, Ia tak tega mendengar kondisi sang mantan kekasih yang sedang sakit. “Aish . . . Hwae Oppa!! Apa mungkin karena perbedaan iklim cuaca antara Seoul dan Taiwan, itu sebabnya Dia sakit.” Terkanya sambil mengetukkan jari telunjuk di dagunya. “Apa sebaiknya aku membelikannya obat atau vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh?” Ia bergegas beranjak dari lantai 4 itu, lalu berjalan menuju lift dan lekas masuk ke dalamnya. “Tapi bagaimana memberikannya? Aku tidak mungkin menyerahkannya secara langsung, meminta bantuan dari yang lain juga hanya akan merendahkan harga diriku saja.” Pikirnya selama berada di ruang sempit yang terus bergerak ke bawah. “Kalau memberikannya secara diam-diam, Hwae Oppa pasti akan berpikir dua kali untuk meminumnya.”

“Ah . . .” Ia menjentikkan jarinya saat mendapatkan. “Mungkin sebaiknya aku ke ruang kostum dulu.” Tawa kecil pun menghiasi wajahnya sambil melenggang dengan penuh percaya diri di lantai 2.

Gadis itu pun tak menaruh rasa peduli pada orang-orang yang berpapasan dan menyapanya. Ia tetap saja pada rencana-rencana yang terus disusun dan menyibukkan pikirannya.

♥ ♥ ♥

Ditempelkannya tahi lalat palsu di pipi dekat bibir, rambutnya pun dibuat keriting. Wajahnya dilapisi bedak berwarna agak kecoklatan agar tampak sedikit berkerut dan terlihat tua, lipstick berwarna merah tebal menghiasi bibir mungilnya. Lekas dipasangnya jaket berwarna abu-abu kehitaman juga celana ketat hitam sepanjang lutut untuk menutupi kakinya..

Ia segera berdiri sejenak di depan cermin sambil melihat penyamaran hasil karyanya sendiri. Senyum lebar merekah, menggambarkan kepuasan. “Apa benar ini aku?” Ia tak percaya melihat sosoknya yang terpantul di cermin. “Aku benar-benar terlihat seperti Ahjumma genit yang biasa mengundang para gigolo untuk datang ke rumah.” Ejek gadis itu pada penampilannya yang berubah dalam sekejap. “Ah . . . Sudahlah. Aku tidak peduli, setidaknya aku harus memberikan obat-obatan itu untuk Hwae Oppa tersayang.” Ucapnya senang. “Sebaiknya aku ke Toko Obat dulu.” Ia bergegas lalu memasang tas ransel, tak lupa juga untuk menyematkan jepitan berwarna merah untuk menghiasi rambutnya.

Kakinya kembali dilenggangkan keluar dari ruang kostum, beberapa member hampir tak mengenalinya.

“Im Yoona!!!” Panggil Yuri. “Apa yang kau lakukan dengan rambut juga baju macam apa ini?” Tanyanya dengan raut wajah jijik.

“Ah tidak apa-apa. Kebetulan aku ingin pergi keluar dulu sebentar.” Yoona begitu terburu-buru.

“Ya, tapi . . . kenapa harus berpakaian seperti itu?” Yuri terus menghujani Yoona dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Baiklah, Eonni. Sampai jumpa lagi saat makan siang.” Akhirnya lalu berlari menuruni tangga darurat untuk menghindar dari orang-orang yang mulai curiga akan tingkahnya.

“Yoona!!!” Panggil Tiffany yang ikut tercengang. “Kenapa Dia berdandan aneh seperti itu?” Tanyanya penasaran pada Yuri yang masih berdiri di sisi koridor.

Yuri hanya berkedik untuk menyatakan ketidaktahuannya. “Entahlah.” Sahutnya singkat.

Lalu raut wajah keduanya pun hanya bisa memandang heran pada sikap salah satu member yang tak seperti biasa.

♥ ♥ ♥

“Aish . . . aku bingung. Sebenarnya Hwae Oppa sedang sakit apa? Tidak mungkin aku membelikan sembarang obat untuknya.” Gumam Yoona pada dirinya sendiri. Sambil mengigit bibir, otaknya pun mulai bekerja menentukan obat yang harus dimasukkan ke dalam list belanja. “Ah . .  kubelikan saja vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh.” Ia semakin bersemangat.

“Apa ada yang bisa aku bantu Nona?” Tanya salah satu penjaga toko yang tengah melayaninya.

“Oh itu, bisa kau berikan aku beberapa botol Vitamin atau Syrup untuk menjaga daya tahan tubuh?” Yoona tampak ragu.

“Oh . . . biasanya vitamin dengan merk apa yang Anda beli?”

“Aku sendiri tidak begitu ingat.” Yoona tertawa lirih.

“Oh baiklah . . . aku mengerti.” Gadis yang tampak sebaya dengannya itu pun lekas menyarankan vitamin dari merk-merk terkenal yang biasanya sangat laku dan selalu habis terjual. Tanpa segan Ia segera memasukkan beberapa botol vitamin juga yang berbentuk tablet bungkus ke dalam tas kertas. “Ini!!” Ucapnya seraya menyerahkan bungkusan itu.

“Berapa semuanya?” Tanya Yoona bergegas.

“15,500 Won.”

“Oh . . . ini.” Yoona lalu mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. “Terimakasih.” Akhirnya dan segera beranjak dari hadapan gadis penjaga toko itu.

“Nona, tunggu!!!” Gadis itu mulai curiga pada sikap gegabah Yoona, Ia mulai mengingat wajah sang Idola yang tak asing menurutnya.

Yoona pun berbalik untuk memastikan semuanya baik-baik saja. “Ada apa?” Ia kembali mengubah cara bicaranya agar terdengar seperti Ahjumma.

“Sepertinya aku salah mengenali orang.” Gadis itu mengurungkan niatnya untuk terus mengorek dan mengurangi rasa penasarannya.

“Oh . . . kalau begitu sekali lagi terimakasih.” Yoona lekas menarik pintu lalu berlari keluar. Ia pun menghela napasnya sekejap sesampainya di teras depan toko. “Hampir saja.” Batinnya lega. “ Aish . . . aku harus segera ke bandara untuk memberikan ini langsung pada Hwae Oppa.” Ucapnya lagi lalu berlari sekencang-kencangnya menuju halte bis terdekat.

Masih dengan penyamarannya yang seperti seorang Ahjumma dengan dandanan yang aneh dan tampak sedikit genit, Ia pun duduk di dalam bis yang mulai melaju di jalan raya. Tak seorang pun yang mengenali sosoknya atau pun menaruh curiga pada penampilannya yang sedikit berbeda. Disandarkannya punggung sejenak untuk menghilangkan rasa penat, “Hwae Oppa, tunggu aku!!” Serunya dalam hati lalu tersenyum centil seperti anak kecil.

♥ ♥ ♥

Beberapa fans yang sudah menunggu sedari tadi untuk menyambut kedatangan sang idola pun lekas bergerumbung sesaat setelah orang yang dipuja-puja itu tiba di tanah air tercinta. Seperti biasa mereka berjejal lalu memberikan beberapa hadiah juga surat penggemar, beberapa diantara mereka juga menyempatkan diri untuk mengambil photo dari tiap langkah yang dibuat oleh Donghae.

Laki-laki itu pun melambaikan tangan dan tersenyum manis untuk menyapa para fans setia yang selalu ada untuk memberikannya dukungan. Sesekali dibenarkannya posisi topi hitam yang dikenakan untuk menutupi rambutnya yang pirang, tak lupa juga Ia menyingsing lengan kemeja yang panjang untuk memudahkannya bergerak.

Berdiri diantara para fans yang semakin menggila itu seorang gadis yang tampak seperti perawan tua dengan rambut keriting dan tahi lalat palsu yang menempel di pipi juga jaket tebal, persis seperti orang udik yang sangat kampungan. Ia ketinggalan di belakang dan tak dapat menerobos ke depan, terlebih beberapa bodyguard coba menghalangi. “Apa yang harus aku lakukan? Kalau berhadapan langsung, Hwae Oppa pasti akan mengenaliku.” Ucapnya yakin. “Aish  . . . seharusnya ini bisa jadi kesempatan baik untukku menyerahkan bingkisan ini, setelah itu langsung kabur dari hadapannya. Sama seperti yang lain, tapi  . .” Napas kembali dihela beberapa kali, lalu terdiam sejenak membiarkan Donghae berlalu menuju pintu keluar utama.

Matanya pun lekas beralih pada seorang anak kecil yang tengah duduk di bangku panjang sambil mengemot permen lollipop. Ia segera berlari kecil untuk menghampiri gadis itu, “Dongsaeng!!” Yoona dengan suaranya yang lembut memanggil anak itu.

Anak kecil itu pun lekas mendongak, keningnya dikernyitkan dan raut wajahnya penuh tanya. Ia tak juga menjawab, hanya memandang penuh keheranan pada orang asing yang tengah mencoba akrab dengannya.

“Apa bisa kau menolongku? Bantu aku memberikan bingkisan ini pada laki-laki itu.” Yoona sambil mengarahkan telunjuknya pada Donghae yang masih pada hentakan kakinya menuju mobil.

“Imbalan apa yang akan kau berikan untukku?” Tanya gadis kecil itu sinis.

“Aku akan memberikanmu permen yang banyak, atau ice cream, boneka, coklat.” Yoona terdengar ragu.

“Tapi sebentar lagi aku akan berangkat ke Singapura. Jadi Ahjumma tidak akan sempat membelikanku semua itu.” Jelas sang gadis yang masih duduk sambil mengayunkan kakinya.

“Ah . . . benarkah? Sayang sekali.” Yoona mulai putus asa.

Gadis kecil itu pun mulai tertarik pada jepitan rambut yang dipakai Yoona, “Bagaimana kalau jepitan merah itu saja?” Ia membuat penawaran lain.

“Jadi kau ingin jepitan merah ini?” Yoona lekas melepas jepitan yang tadi menghiasi rambutnya.

Gadis itu pun mengangguk.

“Baiklah. Tapi berikan ini pada laki-laki itu, okay?” Yoona kembali bersemangat.

Gadis itu pun segera turun dari bangkunya lalu mengangguk menandakan Ia setuju.

“Anak baik.” Yoona tersenyum sambil mengusap kepala gadis kecil itu. “Kalau begitu aku berikan ini untukmu.” Ia pun tanpa segan memberikan salah satu jepitan rambut yang biasa selalu dipinjamkannya pada Donghae.

“Terimakasih Ahjumma.” Gadis yang tadi begitu sinis sekejap berubah manis.

“Aku juga sangat berterimakasih padamu. Jangan lupa untuk sampaikan padanya agar selalu menjaga kesehatannya.” Akhir Yoona lalu kembali meluruskan pinggangnya yang bungkuk dan memperhatikan gadis kecil yang mulai berlari dengan cepat untuk menghampiri Donghae yang hampir saja masuk ke dalam mobil.

“Ahjussi!!!” Panggil gadis kecil itu dengan lugunya. “Untukmu dari seorang Ahjumma di sana.” Ucap gadis itu sambil menunjuk ke arah Yoona yang segera membalikkan punggungnya agar tak ketahuan.

“Oh, terimakasih.” Sambut Donghae hangat.

“Oh ya satu lagi.” Gadis itu teringat pada pesan Yoona. “Jagalah selalu kesehatanmu!!!” Tambahnya lagi.

Donghae pun sekilas teringat pada kata-kata yang selalu diucapkan Yoona padanya. Perhatiannya juga beralih pada jepitan rambut yang sudah tak asing lagi itu. “Dongsaeng!!” Panggil Donghae dengan cepat untuk mencegah gadis kecil yang ingin beranjak dari hadapannya itu.

“Aku punya sekotak kue coklat, apa kau mau menukar jepitan rambutmu itu dengan kue coklat-ku?” Tawar Donghae dengan merautkan wajah polosnya.

“Kue coklat?? Apa kuenya sangat banyak?” Gadis yang tak tahu apa-apa itu tampak  tertarik.

“Tentu.” Donghae sambil mengangguk.

“Baiklah!!!” Gadis itu tanpa ragu melepaskan jepitan rambut yang baru diperolehnya.

Donghae pun memberikan sekotak kue coklat pada sang gadis kecil yang bergegas berlari untuk kembali ke kursi tunggu dimana disana sang Ibu mulai sibuk mencari keberadaannya.

“Apa mungkin Yoona yang memberikan ini?” Pikirnya sambil memperhatikan bingkisan yang masih belum diketahui isinya itu. Ia pun lekas masuk ke dalam mobil lalu duduk santai dan tak lupa untuk kembali melambaikan tangan dengan penuh keramahan pada para fans yang juga memberikan banyak sekali bingkisan untuknya. Punggungnya segera disandarkan, sesaat setelah kaca mobil ditutup rapat. Diamatinya jepitan rambut yang terdapat inisial ‘Y’ di belakangnya. “Sepertinya itu memang kau Yoong.” Ucapnya yakin. Ia pun segera menengok ke dalam bingkisan special yang tadi didapatnya setiba di Korea. “Syrup Multivitamin juga obat tablet menurunkan deman, ditambah dua botol jus dingin.” Desisnya sambil mengernyitkan dahi. “Jadi kau masih sangat mengkhawatirkanku? Yoong, Yoong. Inilah salah satu alasan kenapa aku tak bisa berhenti untuk mencintaimu meskipun kita sudah tak seperti dulu lagi.” Kepalanya pun digelengkan sambil tertawa kecil mengetahui gadis itu masih menaruh simpati padanya.

♥ ♥ ♥

“Ayo semuanya tidur!!! Besok pagi-pagi sekali kita sudah harus terbang ke Jepang.” Perintah Taeyeon pada para member yang masih asyik dengan kegiatan mereka masing-masing di malam yang telah larut.

“Apa tidak bisa kita berangkatnya siang hari saja, eonni?” Tanya Seohyun yang tampak sangat lelah.

“Aish . . . Kau ini!!!” Taeyeon geram. “Kita tidak punya waktu lagi, malamnya kita harus segera tampil di salah satu stasion televisi disana. Kau paham?” Tegasnya sambil memberikan penjelasan untuk sebuah alasan.

“Huhf . . . Benar-benar sangat menyebalkan.” Gerutu mereka serentak.

Taeyeon pun hanya bisa menghela napas melihat tingkah para member yang cukup sulit untuk diatur. Sambil berkacak pinggang Ia kembali berteriak, “Ayo semuanya!! Cepat masuk kamar lalu tidur. Jadi stamina kalian sudah siap untuk menjalani aktivitas lainnya esok hari.” Namun Ia tak pernah lelah sedikit pun untuk menasehati.

Semua member pun lekas berjalan perlahan dengan raut wajah yang muram menuju kamar masing-masing. Sekejap  ruang tengah tempat bersantai menonton televisi pun senyap dan tak ada lagi member yang berkeliaran disekitarnya.

“Apa Hwae Oppa sudah meminum obatnya?” Yoona sambil menggelembungkan pipinya lalu duduk di atas ranjang kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Aish . . . semoga saja sudah. Aku benar-benar tidak bisa hidup tenang kalau belum tahu seperti apa keadaannya sekarang. Terakhir kali kulihat wajahnya memang sedikit pucat, meskipun tampak sangat bersemangat tapi kuyakin saat itu Dia benar-benar sangat lelah dan tidak dalam keadaan sehat.” Gumamnya seraya terus mencemaskan laki-laki itu.

Lampo neon putih segera dimatikan, cahayanya tergantikan oleh sinar remang-remang lampu hias. Yoona pun lekas memaksakan matanya untuk terpejam, tapi kegundahan masih saja menyelimuti hatinya yang tak tenang.

Di salah satu ruangan di Dorm Super Junior, duduk Donghae di kursi dengan kaki diletakkan di atas meja, pulpen di tangan kanan diketok-ketokkannya ke atas buku di tangan kiri. Bibirnya tampak dimonyongkan, kepalanya menengadah menatap plavon ruang musik. Ia masih enggan untuk beranjak dari lamunan yang mengganggu konsentrasinya.

“Jagalah Kesehatanmu, Oppa!” Kalimat itu selalu terniang juga sangat sering didengar dari para fansnya, tapi kalau terucap dari mulut Yoona terasa sangat berbeda karena disana terdapat sebuah ketulusan yang tak mengharapkan balasan.

Dihelanya napas dengan berat, lalu kaki pun diturunkan. Pulpen dan buku disingkirkan dari tangan, lalu jari-jarinya pun menekan sembarang tuts alat musik keyboard di hadapan. Kejenuhan merajahi benaknya, Ia sadar bahwa kerinduan mendalam tengah dirasakan. Perhatiannya pun kembali beralih pada sebotol jus jeruk, sekarang jus itu hanya tersisa setengah dari isi yang penuh sebelumnya. Ditengoknya kebelakang, ditemukannya Heechul yang tengah asyik bertwitter ria menggunakan laptop. “Ah . . . benar juga.” Ia sambil menjetikkan jari dan ekpressi wajahnya yang baru mendapat ide sama persis seperti Yoona, sang mantan yang masih dicintainya.

“Hyung!!” Donghae bangkit dari duduknya lalu dengan kertas dan pulpen berjalan mendekati Heechul.

“Ada apa?” Heechul ketus.

“Bisa bantu aku menggambar? Bukankah bakatmu dalam corat mencoret sangat bagus. Jadi, bantulah aku!! Bisa ‘kan?” Mohon Donghae.

“Memangnya apa yang ingin kau gambar?” Heechul mengalihkan perhatiannya sejenak untuk meladeni Donghae yang semakin bersemangat meskipun jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.

Donghae lekas membisikkan sesuatu ke telinga Heechul.

“Ah . . . aku paham, aku paham!” Heechul berkali-kali menganggukkan kepalanya menandakan Ia mengerti akan permintaan sang dongsaeng.

“Terimakasih Hyung!!” Donghae segera memeluk sayang Heechul.

“Aish . . . sudahlah. Jangan berlebihan seperti ini.” Heechul tampak risih.

Donghae pun hanya mengakhirinya dengan senyum penuh kepuasan.

♥ ♥ ♥

Dengan headset yang menyumpal telinga dan menyumbat pendengarannya. Yoona yang saat itu hanya mengenakan casual t-shirt warna putih dan celana jeans biru, duduk santai di bangku panjang di ruangan yang tertutup oleh kaca-kaca bening agar terhindar dari fans yang mulai memadati bandara.

“Aku ingin pergi ke kamar kecil dulu sebentar.” Gadis itu mohon ijin sambil memanfaatkan waktu yang masih tersisa.

“Oh, silahkan!!” Sang manager pun mempersilahkan. “Jangan lama-lama!” Ia memperingatkan.

Beberapa pasang mata pun lekas tertuju ke arahnya, namun mereka tak begitu menaruh perhatian. Membiarkan Yoona berlalu begitu saja dari hadapan, lalu kembali fokus pada apa yang tengah dilakukan. Yuri kembali dengan novelnya, sementara Hyoyeon dan Sunny begitu asyik menonton video yang tersimpan di dalam laptop.

Yoona pun melangkah gontai dengan menundukkan kepalanya melewati beberapa bodyguard yang masih berjaga-jaga. Lalu keluar dari ruang tunggu yang khusus dipakai untuk para artis menunggu jam penerbangan mereka. Ia pun berjalan dengan santai tanpa harus khawatir pada orang-orang yang akan mengganggunya.

“Noona!!” Panggil seseorang dengan suara yang terdengar mungil dari arah belakang. Ia pun berbalik, ditemukannya seorang anak laki-laki yang tengah tersenyum lebar dan menghentikan kakinya untuk terus berlenggang.

“Ada apa?” Yoona dengan raut wajahnya yang sedikit bingung lalu membungkuk.

“Untukmu!!” Anak kecil itu menyerahkan selembar kertas yang dilipat dua dan dijepit menggunakan jepitan merah.

“Jepitan rambut ini,  . . .” Ia coba menerka-nerka. “Bukankah . . . ini jepitan rambut milikku.”  Ucapnya yakin.

Bocah itu pun segera berlari tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yoona hanya bisa terdiam melongo memperhatikan sang anak kecil yang mulai menjauh dari pandangan dan lenyap dari penglihatan matanya.

Segera dibukanya kertas itu, Ia pun tersenyum mendapati hasil gambaran tangan replica dirinya yang tengah melakukan penyamaran dengan rambut keriting dan tahi lalat palsu. “Ini . . . Bagaimana mungkin?” Ia heran sekaligus gembira dan sedikit terharu, matanya pun mulai berkaca-kaca.“When I see your face. There’s not a thing that I would change. Cause you’re amazing.” Bacanya dalam hati. “Hwae Oppa, apa ini kau?” Kepalanya segera diarahkan kesana-kemari, matanya pun terus dilirikkan mencari keberadaan Donghae yang tak tertangkap olehnya.

Menyamar menjadi sosok seperti apapun, kau akan selalu menjadi seorang Yoong yang sama dan tak ada satupun hal yang bisa merubah dirimu menjadi orang lain. Yoong, terimakasih.” Tulis Donghae dalam catatannya di bawah gambaran itu. Yoona pun tersenyum sumringah lalu melanjutkan langkahnya yang tertunda, dilihatnya lagi jepitan merah itu lalu dipasangnya untuk menghiasi rambut yang terurai.

Donghae yang dari tadi terus mengamati dari kejauhan pun segera berbalik arah untuk menjauh. Ia pun berdiri sejenak, membiarkan tangga escalator mengantarkannya turun menuju lantai dasar. Dengan kaca mata hitam, topi juga hoodie yang menutupi kepala. Ia pun berjalan dengan mantap melewati orang-orang yang memadati bandara. Kemudian earphone yang tadi melingkar di leher pun segera dipasangnya untuk kembali mendengarkan salah satu lagu favoritenya “Just The Way You Are by Bruno Mars”. Perlahan senyum merekah-rekah menghiasi tiap hentakkan kaki yang dibuatnya menuju mobil berwarna putih yang terparkir di luar sana.

Sejenak ingatannya kembali diputar balik untuk menerawang apa yang  dilihatnya kemarin siang saat berada di mobil dalam perjalanan pulang menuju Dorm. Ditemukannya seorang gadis yang tengah berjalan di trotoar, membiarkan terik matahari musim panas menyengat kulit yang putih. Diamatinya dengan seksama postur tubuh gadis yang menurutnya sangat familiar itu. “Yoong, Im Yoona!! Kau kah itu?” Ia masih menerka-nerka. Tawa kecil pun lekas singgah di bibirnya, mendapati Yoona yang tengah menyamar seperti seorang Ahjumma.  “Sepertinya itu memang kau.” Ucapnya lagi dengan sangat yakin lalu kembali tertawa melihat mantan kekasihnya itu tengah bertingkah konyol dengan rambut keriting, jaket tebal dan tahi lalat palsu serta dandanan yang mencolok seperti tante-tante genit.