Tags

, , , , , , ,

YH

Genre : One-shot, Romantic Comedy

Rating : PG-15

Word Counts : 2,031

Note : Hallo, hallo my fellow pyros!!! Here we go!! Setelah sekian lama~ Hhhaa, membaca komentar-komentar kalian yang katanya rindu ff-ku. Membuatku bersemangat untuk menulis satu one-shot, kkk terlebih pic terbaru YoonHae yang benar-benar membuat jantung berdebar-debar menambah inspirasi. Dengan memanfaatkan sedikit waktu luang, jadi untuk sementara cerita ringan yang mudah dimengerti dulu seperti biasanya, hhhaa.

Happy Reading All!!

Beautiful Fireworks

Yoona x Donghae

Terhampar langit yang kesepian karena tiada sedia sang bintang untuk bermunculan memancarkan sinarnya yang benderang. Awan hitam pun perlahan melahap cerahnya, membuat langit yang memayungi bumi itu semakin tak berdaya. Tetesan – tetesan air suci dari sang pencipta untuk seluruh umatnya pun berjatuhan dengan gembiranya, namun membuat beberapa orang kecewa olehnya.

“Hujan!!” Gumam gadis itu dengan suaranya yang parau.

“Hujan? Benarkah?” Seorang laki-laki lekas menghampiri tak percaya seraya melepaskan tas ransel yang segera dihempaskannya ke lantai.

Melalui kaca jendela yang tirainya sedikit terbuka, keduanya pun sejenak memandangi keluar melihat suasana malam dimana hujan tengah mengguyur dan membasahi tiap sisi jalan.

Yoona pun segera menutup kembali gorden berwarna coklat cream itu, lalu duduk di atas sopa. “Bagaimana ini, Hwae Oppa?” Rengek gadis itu manja. “Huhf . . . Padahal kita baru sampai.” Desahnya berat. “Aku ingin sekali melihat kembang api di langit. Baru sekarang ada waktu luang, tapi tetap saja tak bisa bersenang-senang.” Keluhnya. Bibir bawahnya pun dimanyunkan, terlukis jelas kepiluan dari ekspresi wajahnya.

“Mau bagaimana lagi, kita tunggu saja sampai hujannya reda.” Sahut Donghae santai seraya melangkah gontai lalu duduk disamping Yoona kemudian mengusap bahu gadis itu.

“Aish, aku akan tetap menyalakan kembang api.” Yoona bersikeras, lalu bangkit dari duduknya kemudian melenggang dengan mantapnya menuju dapur untuk mengambil beberapa mercun yang tersimpan di laci sebuah lemari dekat pantry.

“Im Yoona!!!” Kejar Donghae, mengekor di belakang. “Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau kekanak-kanakan sekali hari ini?”

Yoona tak menggubris, ia tetap pada keteguhannya. “Setelah beberapa bulan, baru sekarang kita bisa pergi berlibur berdua. Besok kita sudah harus kembali lagi ke Seoul dan sibuk lagi seperti hari-hari yang lain. Aku tidak mau liburan langka ini hanya diisi dengan duduk termenung memandangi air hujan.”

“Yoong, sekarang baru jam 7 malam. Masih ada waktu beberapa jam lagi untuk bersenang-senang. Ayolah!!” Bujuk Donghae.

“Ah, sudahlah. Hwae Oppa diam saja.” Yoona tak menggubris malah mengalihkan pembicaraan dengan menarik tangan Donghae. “Ayo kita ke pekarangan belakang!”

Donghae menghela nafasnya berat, “Dasar kau!!” Geramnya.

Yoona hanya menyambut dengan senyuman melengkung di bibir tipisnya.

Sepasang sejoli itu pun lekas berjalan melewati koridor menuju ruangan belakang yang terhubung langsung dengan pekarangan. Terhenti mereka di teras yang dihiasi tanaman-tanaman di sekelilingnya. Terlihat rintik-rintik air hujan yang membuat lingkaran-lingkaran kecil di atas kolam renang.

“Sekarang kita nyalakan kembang apinya.” Yoona bersemangat sambil meraih payung untuk melindungi dirinya dari hujan. Segera diinjakkannya kaki di atas ratusan bebatuan kecil yang menutupi halaman. “Ayo Oppa!!” Ia memalingkan badan untuk mengajak Donghae mengikutinya.

“Argh, kau ini!!” Donghae tak henti-hentinya menggerutu. Ia pun berlari kecil menghampiri gadis yang berada dua meter di depannya, Ia lekas berdiri di bawah payung bersama kekasihnya itu. “Sini biar aku saja yang menyalakan mercunnya!” Dirampasnya mercun itu dari tangan Yoona.

“Terimakasih, Oppa!!” Ia sangat gembira, dan hatinya penuh suka cita.

Tanpa ragu laki-laki itu menyulutkan api di ujung sumbu yang menghubungkan langsung ke pusat mercun. Dalam waktu sekejap, dengan cepatnya kembang api melesat terbang menuju langit tapi belum sempat memperlihatkan percikan warna warninya yang indah, mercun itu langsung padam terkena air hujan.

“Mana kembang apinya, Oppa?” Yoona begitu kecewa.

“Ya, karena hujan jadinya tidak bisa  . . .” Donghae bingung menjelaskan.

Raut wajah Yoona kembali cemberut, kedua kakinya pun dihentakkan beberapa kali untuk meluapkan kekesalannya. “Baik, baik. Aku akan menunggu hingga hujan reda.” Ia menyerah lalu meninggalkan Donghae yang hanya bisa menggelengkan kepala beberapa kali melihat tingkahnya.

“Yoong!!” Panggil Donghae coba mencegah, “Tunggu aku!!” Gadis itu tak menghiraukannya.

융 ♥ 훼

Sambil memeluk lututnya, Gadis itu pun duduk di salah satu sopa lantai dua. Kedua matanya menatap kosong balkon melalui kaca yang buram tertutup embun. Donghae yang baru tiba sungguh tak tega melihat sang kekasihnya bersedih, segera diambilnya tas ras ransel besar. Ia merogoh ke dalamnya untuk mengambil sesuatu yang tersimpan di sana.

“Happy Pepero Day!!” Serunya gembira seraya memperlihatkan sekotak penganan biscuit stick panjang yang biasa dimakan oleh tiap pasangan di hari special itu.

Yoona hanya terdiam dengan bibirnya yang terkunci rapat, mimic wajahnya semakin lesu tak bergairah melihat ke arah Donghae. “Aku baru ingat hari ini adalah Pepero Day.”

“Karena hari ini adalah Pepero Day makanya aku mengajakmu ke villa agar kita bisa merayakannya bersama. Ayolah Yoong! Sampai kapan kau cemberut seperti itu? Kau terlihat sangat jelek persis seperti seekor rusa yang habis tercebur ke lumpur. Yoona bukan lagi seorang bidadari melainkan rusa jelek dengan tawanya yang lebar seperti alligator.” Ejek Donghae, memancing emosi Yoona.

“Apa, rusa jelek!!! Hwae Oppa, kau keterlaluan sekali.” Yoona mengepalkan tangannya kesal. “Kau juga ikan kecil pendek yang tersesat tak tahu jalan pulang.” Balasnya segera.

“Kau rusa kurus dan jelek.” Donghae tak mau berhenti menggoda gadis itu.

“Hwae Oppa!!!” Teriak Yoona melengking. Hatinya yang tengah panas pun semakin terbakar karena ulah Donghae yang memang sengaja agar gadis itu tak terus bermuram durja. “Awas kau!!

“Ayo kejar aku!!!” Donghae lekas berlari dari amukan Yoona yang hendak mencengkramnya.

Mereka saling kejar-kejaran berputar-putar mengililingi sopa panjang. Raut wajah Yoona tampak begitu buas dan menyeramkan, seakan-akan gadis itu siap memakan mangsanya. Donghae pun tak mau berserah diri dan pasrah, diambilnya bantal untuk melindungi diri dari sang kekasih yang memukul-mukul pundaknya.

“Kau tahu Hwae Oppa? Meskipun aku jelek dan kurus, tapi selalu saja ada ikan kecil yang memuji dan mengatakan betapa cantiknya diriku. Selalu ada saja ikan kecil yang sejauh apapun dia berenang keluar dari lautan, dia tetap saja berbalik arah untuk kembali ke tempat dimana hatinya sudah tertaut.” Yoona tak henti-hentinya meluapkan kegusaran di hatinya dengan terus mencaci dan menghujani Donghae dengan cubitan dan pukulan.

“Maafkan aku, maafkan aku!” Donghae menyerah sambil mengangkat kedua tangannya.

“Huhf!!!” Yoona mendengus kasar, “ Dan dimana-mana rusa memang akan selalu menang melawan ikan kecil itu ha ha ha …” Ia tertawa lebar dengan penuh kepuasan.

“Dasar rusa, beruntung sekarang tubuhku lebih berotot. Kalau tidak, bisa-bisa aku remuk karena tandukanmu.” Donghae masih saja mengejek sambil mengusap bahunya.

“Apa!!!” Yoona yang tengah berkacak pinggang kembali naik darah dibuatnya. Segera dilesatkannya pukulan ringan di bahu kekasihnya itu.

“Aw!!!” Rintih Donghae kesakitan dengan wajahnya yang lugu tak berdosa.

“Kenapa Oppa?” Yoona sontak berhenti. “Sakit? Maafkan aku!!!” Mohonnya lirih lalu mengelus-elus pundak Donghae.

“Aku bercanda.” Sahut Donghae seraya tersenyum tipis. “Sekarang kau sudah tidak sedih lagi ‘kan?”

Yoona hanya menyahut dengan menganggukkan kepalanya pelan beberapa kali, “Maafkan aku, Oppa!!”

“Sudahlah jangan dipikirkan, aku lebih senang melihatmu marah-marah daripada melihatmu murung seperti tadi.” Akhir Donghae yang tak mau membahas lebih lanjut. Segera diusapnya kepala orang yang paling disayanginya itu dengan lembut.

Yoona pun hanya tertunduk malu sambil menggosok-gosok lehernya.

“Jadi, . . . kau mau biscuit stick pepero?” Tawar Donghae ragu.

“Tentu saja. Terimakasih, Oppa.”

“Happy Pepero Day!!” Ucap mereka serentak

Pertengkaran kecil mereka pun terhenti di sudut ruangan dimana terdapat lampu hias berdiri dan beberapa lukisan menempel di dinding-dindingnya mempecantik tempat itu.

융 ♥ 훼

Alunan melodi yang merdu nan syahdu berkumandang dari sebuah dvd player. Suara musiknya yang lembut pun menghanyutkan siapa saja yang mendengarnya. Yoona dan Donghae juga mulai terlena oleh musik yang hanya instrument-nya itu saja.

Duduk Donghae di sopa panjang sambil menjuntaikan kakinya ke bawah sementara Yoona berbaring di pangkuannya, sorot mata mereka yang redup tengah memandang hampa pada air hujan yang belum jua reda. Ekspressi wajah keduanya yang lelah pun dapat terbaca dan saling membisu satu sama lain.

Beberapa kali laki-laki itu mengusap bahu pujaan hatinya, menghangatkan tubuh gadis itu dari udara dingin yang berhembus masuk melalui celah-celah jendela.

“Hwae Oppa!!” Suara Yoona terdengar serak.

“Hmm . . .” Donghae hanya menyahut dengan suara tenggorokannya.

“Kuharap kelak Oppa tidak lagi mudah percaya pada apa yang orang lain katakan tentang diriku, bisa ‘kan?” Yoona mengawali pembicaraan. “Jangan lagi mudah terhasut seperti waktu-waktu yang telah lalu.”

Donghae lekas mengangguk untuk memberikan jawaban.

“Oppa, kau percaya padaku bukan?”

“Kau tahu? Salah satu hal terpenting dari suatu hubungan adalah adanya kepercayaan, jadi kelak kalau memang ada rumor apapun tentang dirimu. Aku akan lebih dulu meminta konfirmasi darimu. Jadi tak peduli rintangan apapun yang menghadang jalan kita, aku tak akan pernah berhenti atau pun mundur dan aku akan selalu percaya padamu.” Donghae memulai rangkai-rangkaian kata puitisnya. “Kau juga percaya padaku, bukan?”

“Tentu, aku juga percaya padamu.” Jawab Yoona mantap. “Kau tahu? Sebelum aku dilahirkan ke dunia ini, Tuhan sudah menjanjikan seorang guardian angel untuk menjagaku dan aku begitu senang karena guardian angel itu adalah Hwae Oppa.” Ceritanya.

“Dan kau tahu? Sebelum tangisan pertamaku di dunia ini berdengung di telinga tiap orang. Tuhan juga menjanjikan seorang bidadari untuk-ku jaga. Itu sebabnya aku setuju untuk terlahir karena bidadari yang harus kujaga adalah kau.” Donghae membalas gombalan Yoona.

“Woah, bukankah itu berarti sejak awal Tuhan memang menciptakan kita untuk saling menjaga dan melengkapi.” Sahut Yoona senang.

“Begitulah.” Donghae mengangguk membenarkan.

Terlihat Yoona mulai mengantuk, beberapa kali pula ia menguap. “Jam berapa sekarang, Oppa?”

“Sudah hampir jam 10 malam.” Donghae melirik jam di pergelangan tangannya.

“Huhf . . .” Yoona lagi-lagi menghela nafas berat melalui mulutnya.

Suara hujan dan alunan musik pun berkolaborasi menciptakan melodi yang selaras. Detik berganti lagi ke detik berikutnya, waktu yang tadi terasa lamban berlalu dengan singkat. Terlihat Yoona yang sudah terlelap di pangkuan Donghae, sementara Donghae tersungkur-sungkur menahan kantuk. Tiba-tiba Ia membelalakkan matanya melihat hujan yang telah reda, “Yoong!!” Panggilnya segera. Tapi Ia sungguh tak tega membangunkan sang gadis yang tidurnya begitu pulas.

Dihembuskannya nafas berat, “Baiklah, lain kali saja kita menyalakan kembang apinya. Lagipula masih ada hari esok bukan? Jadi, tidurlah!! Tidurlah yang nyenyak, Yoong!!” Bisik Donghae mesra pada Yoona yang terpejam dan tengah berkelana di alam mimpi.

융 ♥ 훼

Gadis itu terbangun, otot-otot leher yang terasa kaku lekas direnggangkannya. Ia pun segera berdiri lalu mengeliat dengan bebasnya. Raut wajahnya yang mengantuk seketika berubah segar. “Woah, akhirnya!!!” Ia begitu gembira mendapati hujan sudah reda. “Hwae Oppa!!” Panggilnya pada Donghae yang tertidur dengan menyandarkan kepalanya di sandaran sopa. Segera di tepuknya pundak lelaki itu beberapa kali, “Hwae Oppa, bangunlah!!”

“Ada apa?” Donghae sontak terkejut.

“Lihat, hujannya sudah berhenti!!” Serunya gembira, lalu bergegas menuruni tangga menuju lantai dasar dan berlari menuju pekarangan belakang disusul Donghae.

Raut wajah Yoona kembali kusut mendapati langit yang sudah berubah terang meskipun matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di balik awan pagi buta. “Dimana langit malamnya?” Tanyanya polos.

Donghae pun tersenyum lembut seraya menepuk pelan pundak Yoona, “Langit malamnya sudah ditanggalkan berganti dengan langit pagi.” Jelasnya.

“Tidak boleh!!!” Rengek Yoona. “Kembang api tidak akan terlihat indah di pagi hari.” Sifat kekanak-kanakannya kembali muncul.

Donghae hanya bisa tertawa kecil lalu menarik nafasnya dalam-dalam. Timbul secara tiba-tiba ide cemerlang di benaknya. Lekas dipalingkannya kedua bahu gadis itu untuk menghadap ke arahnya. “Kau tahu, kembang api yang paling indah itu bukanlah saat mercun disulut api lalu melesat terbang tinggi ke udara kemudian apinya memercikkan warna-warni yang indah di bawah langit gelap. Tapi kembang api yang paling indah itu adalah saat aku mengusap kepalamu, . . .” Ia bicara seraya memperagakan tiap kata-katanya. “Lalu kedua bola mata kita saling menatap penuh makna satu sama lain.” Diangkatnya dagu gadis itu, matanya yang teduh dan mematikan itu diluruskannya melihat jauh ke dalam mata Yoona. “Kemudian jari jemariku merengkuh erat jari jemari tanganmu.” Bisiknya.

Yoona hanya terdiam, tak dapat bicara. Seperti berada di bawah mantera, gadis itu menurut saja.

“Dan  . . .” Perlahan Donghae mendekat lalu mengecup lembut bibir tipis Yoona. Kelopak mata mereka pun mengatup ditutup, bibir mereka yang basah lembab  pun bersentuhan  seperti magnet yang saling tarik menarik.

Untuk beberapa saat suasana subuh di pekarangan terasa semakin hening tanpa bising, suara gemercik air dari kolam ikan pun dapat terdengar jelas menambah keharmonisan.

Donghae lekas melepaskan ciumannya, “Bagaimana? Kembang apinya sangat indah, bukan? Apalagi saat kau menutup matamu. Tak peduli siang atau pun malam, kembang api buatan kita adalah yang paling indah di seluruh jagad raya.”

“Benar, Oppa. Kembang apinya sungguh sangat indah.” Lidah Yoona seakan tersendat untuk berucap.

“Kau juga bisa merasakan letusan-letusannya di dadamu.”

Yoona bisa merasakan degupan jantungnya yang begitu cepat. “Ne, tentu. Jantungku sepertinya memang sedang meledak-ledak.”

“Sekarang kau sudah tidak sedih lagi, bukan? Ayo kita pulang ke Seoul!!” Ajak Donghae dengan bijak.

“Oppa!!” Cegah Yoona.

“Kenapa?”

“Apa bisa sekali lagi kita menyalakan kembang apinya?” Pinta Yoona.

“Benarkah? Sekali lagi?” Donghae tertawa kecil. “Baiklah. Apa kau sudah siap?”

Yoona hanya mengangguk dengan  polosnya.

Keduanya pun kembali terbuai dalam indahnya kembang api yang mereka ciptakan sendiri tepat di bawah sang mentari yang tersenyum dengan memancarkan sinar hangatnya, diiringi suara air mengalir di kolam yang terdapat ikan-ikan kecil berenang.

융 ♥ 훼